Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember 31st, 2011

Pengarang: Robin Hobb
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Korektor: Tendy Yulianes
Tahun: 2011
ISBN: 978-602-8590-30-3
Tebal Buku: 532 hlm
Penerbit: Matahati
Harga: Rp. 70.000,-

“Aku membawa anak ini kepadamu”

“Aku sudah memberi makan anak ini selama enam tahun, dan tak pernah ada satu katapun dari ayahnya, sekeping koin pun, satu kunjungan pun, walaupun putriku menegaskan bahwa lelaki itu tahu dia memiliki anak haram dengan putriku”

“Jadi kau ambillah dia, dan berikan dia kepada ayahnya”

“Punya siapa?”

“Punya Chivalry. Pangeran Chivalry. Sang Calon Raja.”


Assasin’s Apprentice,
dari judulnya saja sudah menyiratkan tentang pembunuhan. Akan tetapi, dalam buku ini tidak diceritakan mengenai pembunuhan berdarah-darah dan membabi buta, melainkan tentang bagaimana seorang Bocah haram yang dicela semua orang mempelajari seni-seni membunuh dan menggunakan kemampuannya demi kepentingan kerajaan. The Farseer Trilogy merupakan Novel Fiksi Fantasy dengan jumlah volume tiga buah, yaitu Assasin’s Apprentice, Royal Assassin, dan Assasin’s Quest. Novel ini mengisahkan mengenai kerajaan Enam Dutchy yang dipimpin oleh Keluarga Farseer.

Pintu itu begitu tinggi — tidak hanya bagi anak enam tahun, tapi juga untuk dimasuki raksasa — sampai – sampai lelaki tua yang menjulang di sampingku pun tampak seperti kurcaci. Dan pintu itu terlihat asing bagiku, meskipun aku tidak bisa mengingat jenis pintu atau tempat tinggal seperti apa yang terlihat familier. Hanya saja aku tidak pernah melihat pintu seperti ini, yang diukir dan ditahan dengan engsel besi hitam, serta berhias kepala rusa dan pengetuk dari kuning mengkilap.

Cerita ini diawali dengan kehadiran seorang Bocah di depan pintu gerbang istana Kerajaan Enam Dutchy. Bocah yang kemudian dinamakan Fitz ini merupakan anak haram dari calon raja kerajaan Enam Dutchy, Pangeran Chivalry. Fitz dibesarkan oleh kepala istal kerajaan, Burritch, dipandang rendah seisi istana karena darah haramnya. Akan tetapi, dalam darahnya mengalir Keahlian, kemapuan telepati yang turun menurun dalam keluarga Farseer, penguasa Enam Dutchy.

Fitz yang hanya seorang Bocah haram, dipandang remeh oleh seisi istana, dan tidak memiliki kemampuan apapun, berkembang menjadi seorang pemuda yang tangguh, cerdik, dan berwawasan setelah bertemu dengan Raja Shrewd, penguasa Enam Dutchy. Dengan memberikan keloyalan Fitz kepada Sang Raja, Fitz dilatih menjadi seorang pembunuh.

Kemampuan dan Keahlian Fitz berperan besar saat perompak ganas menyerang kerajaan. Berbekal keahliannya itu, Fitz menjalankan misi berbahayanya yang pertama. Akan tetapi, bukan hanya perompak saja yang harus Fiz hadapi, melainkan pihak-pihak lain yang terganggu akan kehadirannya dan ingin membunuhnya. Disinilah keloyalan dan kecerdikan Fitz, si anak haram, diuji.
Pada awalnya, tama malas membaca novel ini. Pertama, bukunya tebal. Kedua, untuk pecinta novel fiksi fantasi yang kaya akan sihir, petualangan, dan keajaiban, judulnya kurang membuat tertarik. Tapi , ada hal yang membuat tama akhirnya membaca buku ini. Sang pengarang, Robin Hobb, merupakan penulis yang salah satu ceritanya tercantum dalam novel Wizards, novel yang berisi kumpulan cerita-cerita fiksi fantasi dan memiliki sentuhan sihir pada ceritanya. Untuk bab-bab awal, alur cerita berjalan lambat, penuh dengan ilustrasi tempat dan pemikiran-pemikiran yang ada pada diri Fitz. Akan tetapi, pada pertengahan cerita, alur cerita berkembang menjadi semakin menarik dan merupakan “Waaaaawww” bagi tama karena tama berhasilkan menamatkan buku ini dalam 2 hari. hhehe…^^

Kelebihan dari buku ini adalah imajinasi si pengarang dalam menggambarkan Kerajaan Enam Dutchy dan sudut pandang tokoh-tokohnya mengenai politik. Dalam buku ini, terlihat sekali mengenai cara berpolitik antar pangeran dan raja. Pangeran Chiv, berpolitik bersama dengan rakyat. Dia selalu menjadi orang pertama yang memimpin kerajaan dengan bijaksana dan “berjalan” bersama rakyat. Pangeran Verity, terbiasa menjadi orang kedua dan melakukan hal-hal yang sudah mendapat pemikiran lebih lanjut dari Pangeran Chiv atau Raja Shrewd. Sehingga, ketika Pangeran Chiv mengundurkan diri sebagai calon raja dan digantikan oleh Pangeran Verity, dia membebankan kedamaian kerajaan pada dirinya sendiri. Pangeran Regal, memiliki cara pandang berpolitik yang berbeda dari kedua kakaknya. Berbekal kelihaian berbicara, kemewahan, dan pakaian yang ditaburi permata, dia memesona keluarga-keluarga kerajaan lain untuk mengikuti apa yang diinginkannya.

Untuk masalah kelemahan, menurut tama, kelemahan buku ini sama seperti kelemahan novel fiksi fantasi pada umumnya. Penggambaran setting tempat dan sudut pandang tokoh, dirasa berlebih, sehingga untuk beberapa tempat, tama bacanya sekilas bahkan kadang ngga dibaca. Hhoho…^^

Mengenai sang pengarang, mba Robin Hobb, tama mau cerita sedikit, yang “kebetulan” ceritanya diadaptasi dari wikipedia. Robin Hobb merupakan nama pena kedua dari novelis Margaret Astrid Lindholm Ogden (1952) yang membuat karya-karya ber-genre fiksi fantasi dan telah mempublikasikan beberapa karya bergenre science-fiction.

Dari 1983 hingga 1992, mbae menulis dengan nama pena Megan Lindholm, dan semenjak 1995, mbae mulai menggunakan nama pena Robin Hoob untuk membuat epic traditional European Medieval Fantasy. Pada tahun 2003, mbae sukses menjual lebih dari 1 juta kopi dari sembilan buku pertama Robin Hobb. Mbae menulis dua volume buku The Rain Wild Chronicles, yaitu The Dragon Keeper dan Dragon Haven. Buku terbarunya, The Inheritence, merupakan koleksi cerita pendek dari Robin Hobb dan Megan Lindholm.

Berikut karya-karya Margaret Astrid Lindholm Ogden, baik sebagai Megan Lindholm maupun Robin Hobb.

Sebagai Megan Lindholm

The Ki and Vandien Quartet

Tillu and Kerlew

Other Books

Short stories

Sebagai Robin Hobb

The Realm of the Elderlings

The Farseer Trilogy
Liveship Traders Trilogy
The Tawny Man Trilogy
The Rain Wilds Chronicles

Soldier Son Trilogy

Cerita Pendek

Iklan

Read Full Post »